Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 19, 2012

JAMSOSTEK JOURNALIST AWARD 2012

Dalam rangka peringatan HUT ke-35 PT Jamsostek (Persero), Jamsostek Journalists Club (JJC) kembali menggelar Jamsostek Journalist Award (JJA) 2012, dengan tujuan utama mensosialisasikan program-program jaminan sosial kepada khalayak ramai, mencari masukan-masukan konstruktif bagi PT Jamsostek dan memberikan apresiasi bagi insan media yang peduli dengan perlindungan sosial bagi pekerja. Adapun tema JJA tahun ini adalah transformasi PT Jamsostek ke BPJS ketenagakerjaan dan peranannya dalam memberikan perlindungan bagi peserta. II. Kategori Lomba: 1. Media cetak dan online 2. Fotografi. III. Persyaratan Lomba: 1. Terbuka bagi wartawan cetak, online dan foto. 2. Materi lomba telah dipublikasikan di media massa masing-masing peserta pada periode 1 Januari – 10 November 2012. 3. Materi yang dilombakan dapat berupa reportase,feature dan analisis yang panjangnya minimum 3.500 karakter. 4. Setiap peserta boleh mengirimkan paling banyak dua tulisan atau dua foto 5. Materi dikirim dalam bentuk cetak dan online atau fotokopi atau diantar langsung ke secretariat panitia JJA. Alamat sekretariat panitia JJA: Maliki Sugito Biro Humas Lantai 4 : Gedung Jamsostek Jl. Jendral Gatot Subroto No. 79 Jakarta 12930. Telepon : (021) 520 7797 6. Materi diterima oleh panitia paling lambat 12 November 2012. IV. Tota Hadiah yang Diperebutkan : Rp 115 juta 5.1. Karya Tulis 1. Hadiah Juara I : Rp. 20.000.000 2. Hadiah Juara II : Rp 17.500.000 3. Hadiah Juara III : Rp 12. 500.000 4. Hadiah Juara Harapan I : Rp 10.000.000 5. Hadiah Juara Harapan II : Rp 7.500.000 6. Hadiah Juara Harapan III : Rp 5.000.000 5.2. Fotografi 1.Hadiah Juara I : Rp 15.000.000 2.Hadiah Juara II : Rp 12.500.000 3.Hadiah Juara III : Rp 10.000.000 4.Hadiah Juara Harapan I : Rp 7.500.000 5.Hadiah Juara Harapan II : Rp 5.000.000 6.Hadiah Juara Harapan III : Rp 2.500.000 5.3. Para pemenang lomba akan diumumkan 5 Desember 2012 Hormat kami, Panitia JJA 2012

Rabu, November 03, 2010

Komunitas Keluarga Muslim Menara Jamsostek (KMMJ)

Banyak komunitas yang terbentuk di menara Jamsostek, salah satunya adalah Komunitas Keluarga Muslim Menara Jamsostek (KMMJ), berikut penjelasan mengenai komunitas ini berdasarkan keterangan pada website resmi KMMJ:

KMMJ merupakan komunitas keluarga muslim menara Jamsostek, terdiri atas tenant dari menara Jamsostek yang insya Allah berkomitmen untuk tegaknya dakwah Islam di lingkungan menara Jamsostek serta untuk mempererat tali ukhuwah Islamiyah sesama tenant.

KMMJ didirikan pada tanggal 19 Desember 2002, menempati ruangan temporary pada lantai 1 Gedung Utara Menara Jamsostek. Alhamdulillah saat ini telah berdiri masjid An Naml sebagai wadah jamaa’ah dalam bermuamalah, tholabul ilmi, menjalin ukhuwah serta melaksanakan kewajiban sholat berjama’ah.

Selain rutinitas sholat berjama’ah, aktifitas jama’ah masjid An Naml sangat beragam mulai dari kegiatan kultum ba’da Dhuhur, pembacaan hadist setiap ba’da sholat Ashar, bakti sosial, donor darah, santunan terhadap anak yatim piatu dan dhuafa disekitar lingkungan Menara Jamsostek sampai kegiatan di bulan Ramadhan yaitu ta’lim ramadhan setiap ba’da dhuhur, ta’jil pada saat ifthor serta sholat tarawih.

Selasa, November 02, 2010

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 111 dari 180 negara

Menurut laporan tahun 2009 berdasarkan data 2007, IPM Indonesia berada di peringkat 111 dari 180 negara, lebih rendah daripada Singapura (23), Malaysia (66), Thailand (87), dan Filipina (105), bahkan Sri Lanka (102) dan Palestina (110). Peringkat ini menempatkan Indonesia pada posisi negara dengan pembangunan manusia sedang di kelompok negara berkembang.

IPM diukur dari tiga aspek pembangunan manusia: 1) hidup sehat dan panjang umur; 2) pengetahuan, diukur dari tingkat baca-tulis orang dewasa dan dikombinasi dengan angka pendaftaran sekolah; dan 3) standar kehidupan layak yang diukur dari PDB per kapita.

Kajian Harvard Kennedy School Indonesia Program, Ash Center for Democratic Governance and Innovation, memperkuat keprihatinan selama ini, yaitu terabaikannya pembangunan manusia menyebabkan lemahnya daya saing Indonesia dalam persaingan global.

Masih ada peluang mengejar ketertinggalan itu dengan melakukan investasi pada sumber daya manusia (SDM). Indonesia telah memiliki perangkat hukum UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). SJSN, demikian pengajar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Budi Hidayat, merupakan wujud pilar kedua perlindungan sosial berupa asuransi sosial yang ditujukan bagi masyarakat nonmiskin dan bersifat wajib. Dua pilar lain adalah bantuan sosial (untuk rakyat miskin) dan asuransi sukarela (masyarakat membeli benefit tambahan).

Minggu, Oktober 24, 2010

Jumlah peserta aktif program jamsostek sampai dengan September 2010 mencapai 9,12 juta orang

Berdasarakan siaran pers PT. Jamsostek (Pesero), Minggu, menyebutkan jumlah peserta aktif program jamsostek terus meningkat yakni sampai dengan September 2010 mencapai 9,12 juta orang, tahun lalu sekitar 8 juta, sementara peserta nonaktif 21,83 juta orang. Sedangkan jumlah perusahaan aktif sudah mencapai 129.293 perusahaan dan yang nonaktif 89.394 perusahaan.

Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga, ketika dihubungi mengatakan, Target penambahan kepesertaan tenaga kerja tahun 2010 sebanyak 2.794.665 orang, realisasi sampai dengan September 2010 sebanyak 2.321.430 orang atau sudah mencapai 83,07 persen.

Target penambahan kepesertaan perusahaan di tahun 2010 adalah 23.166 perusahaan, realisasi sampai dengan September 2010 sebanyak 18.102 perusahaan atau 78,14 persen dari target setahun.


[Via]

Rabu, Oktober 20, 2010

Jamsostek Investment beroperasi tahun depan

Anak perusahaan PT. JAMSOSTEK (Persero), Jamsostek Investment Company (JIC) direncanakan beroperasi pada awal tahun 2011:

Hingga saat ini, pendirian JIC ini masih menunggu hasil kajian dari konsultan yang ditargetkan selesai pada tiga bulan ke depan.

"Mudahan-mudahan sudah bisa operasi awal tahun depan, ya kuartal I tahun depan," kata dirut PT Jamsostek, Hotbonar Sinaga di sela-sela 25th East Asian Insurance Congress (EAIC) di Nusa Dua, Bali, hari ini.

Dia menambahkan sebenarnya target operasional JIC sudah molor dari target awal yakni semester I/ 2010. “Kami tempuh prosedur pendirian yang seharusnya dilakukan."

Selasa, Oktober 19, 2010

Mengurus Klaim Jamsostek

Sekedar mengumpulkan tulisan dari beberapa blog yang menceritakan pengalaman mereka dalam mengurus klaim Jaminan Hari Tua (JHT) JAMSOSTEK, mudah-mudahan bermanfaat:

Ngurus klaim Jamsostek, ternyata gampang kok !!!
http://myshant.multiply.com
Iya, gampang. Gak berbelit-belit seperti yg aku kira sebelumnya. Asalkan, persyaratan dan surat-surat kelengkapan yg dibutuhkan dipenuhi semuanya.

Ngurus Jamsostek itu gampang, asal....
http://ndull.multiply.com/journal/item/63/Ngurus_Jamsostek_itu_gampang_asal....
Yup, ternyata ngurus jamsostek itu nggak seribet perkiraan gw semula... Gampang kok..
Asalkan kita ngikutin syarat dan ketentuan yang berlaku.

JHT Jamsostek, Gampang Kok
http://maniapasta.multiply.com/journal/item/245
Gampang dan ga ribet. Asal semua dokumen beres, prosesnya ga sampe 10 menit ko. Uangnya sendiri baru bisa cair satu minggu setelah berkas diajukan. Tapi kalo transfer, prosesnya bisa sampe 10 hari karena mereka biasanya kliring antar bank.

Ngurus jamsostek ternyata gampang banget
http://www.asupna.com/future/Ngurus-jamsostek-ternyata-gampang-banget-f9.html
Sahabat ngurus jamsostek ternyata gampang banget supaya tdk bulak balik ngurusnya seperti yang gue alamin karena persyaratan yang tidak lengkap, jadi yang mesti disiapin (persyaratannya, red).

Kekayaan Jamsostek Diperkirakan Mencapai Rp100 Triliun

Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan kepada metronews bahwa hingga akhir Agustus 2010, total kekayaan Jamsostek sudah mencapai sekitar Rp94,5 triliun dan diperkirakan sampai akhir tahun bisa mendekati angka Rp100 triliun.

Ditemui usai peresmian Klinik Medis 24 jam di komplek Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), Hotbonar menjelaskan, sekitar 90 persen dari total kekayaan atau aset tersebut merupakan dana investasi.

Investasi di sektor obligasi menjadi yang terbesar dengan porsi mencapai hampir 50 persen. Selain itu, Jamsostek juga melakukan investasi dalam bentuk deposito, pembelian saham, properti, dan lainnya.

"Sebagian besar adalah obligasi yang diterbitkan pemerintah. Demikian juga dana untuk deposito juga kami tempatkan pada bank-bank pemerintah seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN," ujarnya.

Sedangkan untuk investasi saham, lanjut Hotbonar, selain saham dari perusahaan milik pemerintah, Jamsostek juga membeli saham perusahaan yang masuk kategori "blue chip" atau saham-saham unggulan.

"Ada beberapa tahapan yang kami lakukan sebelum melakukan investasi, salah satunya menyangkut besar kecilnya risiko. Itu sangat penting, karena dana yang digunakan untuk investasi adalah milik peserta Jamsostek," tambahnya.

Hotbonar juga mengungkapkan rencana Jamsostek untuk membeli saham beberapa BUMN yang akan melakukan "right issue" (pelepasan saham baru) seperti Bank Mandiri, BNI, dan PT Krakatau Steel.

Pembantu Rieke Dyah Pitaloka Ikut Jamsostek

Artis dan anggota DPR Rieke Dyah Pitaloka mengatakan akan mendorong pekerja rumah tangga (PRT) untuk bisa masuk ke dalam sistem Jamsostek agar memiliki jaminan sosial di hari tua sesuai dengan Undang-Undang No 40 tahun 2004.

"Kalau saya mendorong undang-undangnya, pertama saya harus mengimplementasikan dari saya sendiri. Termasuk jaminan sosial ini, saya akan kasih kepada orang yang bekerja sama saya, kaya driver dan PRT di rumah," tutur Rieke.

BTW, bu...ibu sendiri sudah masuk Jamsostek belum?

Senin, Oktober 18, 2010

Kenapa Dokter mukanya serius?

dr jamsostek

Pocong JAMSOSTEK

Ini yang nulis Adhitya Mulya penulis yang punya suamigila.com, bukan gw...sumpeh! Judul aslinya sich Pocong 23. Lucu apa nggak...baca aja dech sendiri!

Jadi ceritanya gua baru sign up ke www.facebook.com. Di sana gua hook up sama temen gua orang sinemart yang jadi produser Pocong #2. Dalam statusnya dia bilang "can't wait to hear Pocong #3 scoring!!" Weleh, pikir gua, ternyata pocong udah mau dibuat threequelnya.

Gak banyak film yang selamet dibikin threequelnya. Kalo gak filmnya yang lama-lama gak laku, bintangnya yang lama-lama loyo. Liat Jurassic Park. Atau liat Rocky yang same dibikin #6-nya. Gila tu orang udah jadi aki-aki padahal baru #6 doang. Gua kebayang kalo sampe pocong dibikin film ke #23-nya.

"aaaaaaaaaaaand cut!" kata sutradara pocong #23. "Kita break makan siang dulu ya."
Si pocong yang beneran tertatih-tatih berdiri.
"Sut..." kata pocong, manggil sutradara, "Gua cabut dulu ya. Gua sekalian makan siang di luar"
"Ih kemana? Lu gimana sih! Gua mau syuting ngebut nih. Gaya amat lunch di luar segala. Inget lu jadi pocong udah jadi aki-aki. Itu orok udah gua sediain. Susah tauk nyari orok!"
Pocong jutek. "Ih masak gua keluar sebentar aja gak boleh?!"
"Lu mau apa? Tu liat di balik pu'un!" Keduanya menoleh ke pohon angker di setting syuting. Ada banyak pocong beneran ngintip dan langsung pura-pura sibuk sendiri. "Ada banyak pocong muda yang mau gantiin lu dengan bayaran lebih rendah. contohnya: orok sapi. Gak kayak elu mintanya orok manusia mulu. Kirain nyari orang beranak gampang apa?"
"Ye, bukannya belagu. Ini gua mau ngurusin jamsostek gua. Ntah kenapa gak cair bulan kemarin. Istri gua juga kan mesti belanja."
"Ya udah sana. 1/2 jam ya."
"Lu tega deh. Ini gua kan udah tua, gua lompat aja beser."
"Ya udah sana!"

30 menit kemudian, sesampainya di gedung jamsostek, Pocong masuk dengan melompat-lompat. Dia mengambil kartu tunggu dan duduk di sebelah jin tomang dan kuntilanak.
"Eh kunti. apa kabar?"
"Baek mas."
"Gak bunuh orang hari ini kun?"
"Gak. Lagi puasa."
"Oh pantes. Jamsostek lu gak cair ya?"
"Iya nih bete. Secara gua janda, ini pemasukan gua satu-satunya. Pemerintah makin gak beres aja."
Pocong teringat akan sesuatu. "Eh iya, gua janjian sama suster ngesot. Bentar gua telfon dulu."
"Halo, Sus? Lu di mana?"
"Aiyya, wo balu belok masuk thamlin aah."
Pocong bingung, dia berbisik pada kunti. "Kun, sejak kapan suster ngesot jadi cina?"
"Heh? cina? Dia kan kebumen."
"Sus, lu kenapa?"
"Ni ya wo kasih tau. Wo barusan makan orang cina. Makanya jadi gini wo punya omongan."
"Ya elah. Oh iya. balik ke topik semula. Gua mau nanya aja. LO KE SINI GIMANA? MELATA APA? LAMA AMAT?"
"Aiyaaa. WO KAN NGESOT! Udah ah berisik lu orang!"
-Klik-

Pocong terduduk dengan lesu di samping kunti.
"Jaman sekarang udah beda ya. Kun."
"Iya."
"Jaman dulu orang ngeliat kita, jerit-jerit. Sekarang, kita diperdubak jadi insan perfilman yang dibayar gak seberapa."
"Padahal semua film horor box office tuh."
"Iya. Sekarang kita bunuh orang gak seru lagi."
"Iya. Eh gini aja. kita ke atas gedung, trus jorokin yuk. Untuk seneng-seneng aja." ajak kunti.
"Ayo ayo!" mereka segera beranjak.
"Tapi pelan-pelan. Asam urat."
Di atas gedung mereka berpapasan dengan pegawai kantoran dan segera menakut-nakuti orang itu. Orang itu bereaksi dengan penuh logika dan logikanya berkata bahwa penyelesaian terbaik dari bertemu setan adalah melompat dari gedung.

Tak setelah setelah orang tu mejret kemana-mana di lantai dasar, pocong dan kunti kembali ke kantor jamsostek. Mereka senang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama mereka membunuh untuk senang-senang lagi. Sesampainya di kantor jamsostek. Mereka bertemu dengan suster ngesot yang sekarang lebih pantes disebut nenek-ngesot.
"Dih, tampang lu jutek bener. Kayak yang baru makan orang jawa aja."
"BT nih. Jamsostek tutup."
"Kenapa?" tanya mereka.
"Kepala cabangnya baru lompat dari gedung. Jamsostek tutup sampai pengumuman selanjutnya." Nenek-ngesot menggedor-gedor jendela "LU KIRA GAMPANG AJA NGESOT RAGUNAN-THAMRIN!???????????? KUNYUK!"
Pocong dan kunti saling bertatapan.

This is definitely not their day.

Minggu, Oktober 17, 2010

Sosialisasi Herregistrasi JAMSOSTEK

Herregistrasi JAMSOSTEK

Jamsostek Perluas Kerjasama dengan Puskesmas

JAKARTA (Pos Kota) – Beri pelayanan kesehatan maksimal pada peserta, PT Jamsostek memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga dan institusi kesehatan.

Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga menjelaskan, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan ribuan pusat pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik medis, poliklinik, dan apotik.

“Kami akan terus perluas kerja sama pelayanan kesehatan itu. Tidak menutup kemungkinan Jamsostek akan menjalin kerja sama dengan puskesmas-puskesmas yang dikelola pemerintah,” katanya, kemarin.

Lembaga atau institusi yang ingin bekerjasama dengan PT Jamsostek, lanjut Hotbonar, harus memiliki kualitas sumber daya manusia dan sistem pelayanan yang baik, lokasi yang strategis, serta jam operasional yang lebih panjang.

Menurutnya, dari sekitar 30 juta pekerja yang terdaftar sebagai peserta Jamsostek, hanya sekitar dua juta peserta yang mengikuti program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).

“Tapi kalau dihitung dengan anggota keluarganya yang ikut ditanggung yakni istri atau suami dan maksimal tiga orang anak, total peserta program ini (JPK) sekitar 4,5 juta orang,” katanya.

Menurut Hotbonar, masih rendahnya peserta program JPK, karena adanya aturan yang tidak mewajibkan peserta Jamsostek untuk mengikuti program tersebut.

“Kami sedang upayakan agar ke depan peserta Jamsostek wajib mengikuti program JPK tanpa syarat, seperti yang terjadi saat ini,” tambah Hotbonar yang akan meningkatkan manfaat biaya perawatan dari Rp12 juta menjadi Rp20 juta.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah VI Jamsostek, Djunaedi mengungkapkan, dari dua juta peserta JPK saat ini, sekitar 400 ribu diantaranya berada diwilayah VI yang meliputi Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Para pekerja itu dilayani sebanyak 71 rumah sakit, 381 poliklinik dan 38 apotek. (tri/dms)

[Via]

Pembayaran Pajak dan Iuran Jamsostek Seharusnya Disatukan

JAKARTA. Supaya perusahaan mengikutkan karyawannya masuk Jamsostek, pemerintah dapat menerapkan penggabungan sistem pembayaran iuran dengan pembayaran pajak bagi individu atau perusahaan wajib pajak.

Dengan sistem ini dapat meningkatkan kepesertaan dan pengawasan, kata Direktur Utama PT Jamsostek, Hotbonar Sinaga, Senin.

Sistem seperti itu, lanjutnya, tidak hanya memudahkan pendataan kepesertaan jaminan sosial, melainkan juga memudahkan perpajakan mendata wajib pajaknya. Tapi sayangnya belum diatur dalam perundangan.

Pasalnya, di beberapa negara, dana jaminan sosial disetor oleh badan penyelenggara ke anggaran pembangunan dan belanja negara mereka. Sementara di Indonesia dikelola langsung oleh lembaga penyelenggara.

Hotbonar menuturkan, mekanisme pengumpulan iuran dari peserta jaminan sosial maupun penegakan hukum merupakan basis dari penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang efektif dan berkelanjutan.

Artinya, lanjut Hotbonar, baik individu atau perusahaan wajib membayar pajak dan mendaftarkan tenaga kerjanya dan upah yang benar dalam satu paket.

Upaya itu diperlukan karena kesadaran perusahaan mendaftarakan pekerja dengan upah yang benar masih relatif rendah, tukasnya.(tri/B)

[Via]

Sabtu, Oktober 16, 2010

Hubungi JAMSOSTEK terdekat aja, ya...!

Assalamu'alaikum wr. wb

Pak...Saya XXXXX...menyambung pembicaraan telepon tadi....saya ingin mengetahui info kepersertaan Jamsostek saya....nomor dahulu yang diberikan adalah XXXXXXXXXX. Trimakasih sebelumnya...

wassalamu'alaikum wr.wb

Cukup sering saya menerima telpon dan email dari penjuru Indonesia gara-gara saya menuliskan alamat email dan nomor HP pada bahan presentasi yang saya upload di sini. Pertanyaan umum, termasuk jumlah saldo, data kepesertaan, perusahan tidak ikut JAMSOSTEK dan lain-lain. Agar dapat ditindaklanjuti maka saya sarankan sebaiknya menghubungi cabang JAMSOSTEK terdekat yang alamatnya ada di sini. Demikian dan terimakasih.

Jamsostek Kutai Timur Terancam Ditinggal Nasabah

Politikindonesia - Pelayanan PT Jamsostek (persero) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur banyak dikeluhkan oleh perusahaan yang menjadi nasabahnya. Bahkan Sejumlah perusahaan swasta mengancam akan meninggalkan BUMN asuransi tersebut jika tidak juga memperbaiki pelayanannya.

Keluhan dari perusahaan swasta tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kutai Timur, Asrul Anwarsyah, Senin (13/09). Dituturkan Asrul, beberapa perusahaan swasta sudah melapor ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi karena kecewa pada pelayanan PT Jamsostek di Sangata yang dinilai mereka tidak professional dan lambat.

“Mereka mengatakan akan pindah ke perusahaan jasa asuransi lain, apabila PT jamsostek tidak segera meningkatkan sistem pelayan cepat, bukan menunggu berhari-hari,” kata Asrul.

Dikatakan Asrul pula, sesuai imbauan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar, Jamsostek mesti mengelola secara universal dengan memberikan kesetaraan hak dan pelayanan secara nasional.

Sebagaimana dikemukakan Meneg BUMN, pendekatan untuk meningkatkan kepesertaan tidak hanya dilakukan secara represif melalui penegakan hukum/UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek, tapi juga secara persuasif. Ini dilakukan agar program Jamsostek menjadi kebutuhan pekerja dan perusahaan.

Asrul menengarai, yang menjadi penyebab lambatnya tingkat pelayanan PT Jamsostek di Kutai Timur karena status kantor tersebut hanyalah cabang pembantu. Sedangkan kantor cabangnya masih berada di Bontang.

“Itupun pegawainya kalau tidak salah hanya dua orang, laporan dikirim dulu ke Bontang, ini kan memperlambat pelayanan,” kata Asrul.

Untuk menghindari perusahaan-perusahaan tersebut beralih ke perusahaan asuransi lain, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyarankan PT Jamsostek agar membangun kantor cabang di Sangata karena jumlah perusahaan yang beroperasi di Kutai Timur sangat banyak.

“Perusahaan yang berskala nasional hingga skala internasional dan bergerak diberbagai sektor ada di Kutai Timur, seperti pertambangan, perkebunan, kehutanan, Rumah sakit dan lainnya,” kata Asrul memberi gambaran.
(zel/yk)

[Via]

Jamsostek Antara McDonald dan Pelayanan

Erafzon Sas

Jakarta (ANTARA News) Apa yang ada di benak konsumen jika mereka datang ke salah satu restoran waralaba McDonald? Mereka mengharapkan mendapatkan rasa makanan yang sama dan kualitas layanan yang sama pula di mana pun mereka berada.

Standar produk dan kualitas layanan yang sama itulah yang menjadikan Mc Donald mendunia dan mudah diterima di mana saja. Seorang turis di Moskow yang dingin akan membayangkan makan cheese burger yang sama nikmatnya di negara asalnya di daerah tropis, dan tentu saja tanpa harus berantre lama untuk mendapatkannya.

Kondisi itu memang menjadi perhatian utama pemilik waralaba McDonald. Penyeragaman rasa dan layanan menjadi kajian ilmu sosial dan ditiru banyak waralaba lainnya di seluruh dunia.

Lalu, apa kaitannya dengan pelaksana program social security PT Jamsostek? BUMN ini memiliki 29 juta peserta (pekerja) di sekitar 60 ribu perusahaan dan 8,3 juta di antaranya peserta aktif.

Wilayah kerjanya dari Aceh hingga Papua Barat dengan delapan kantor wilayah dan 121 kantor cabang. Aset yang dikelola hampir Rp90 triliun dan sebagian di antaranya uang pekerja.

Dengan kondisi maraknya praktik kerja `outsourching` dan kontrak maka jumlah peserta yang terdaftar dan keluar semakin meningkat.

Status kerja outsourching dan kontrak --yang banyak digugat serikat pekerja belakangan ini-- menjadikan lalu lintas pekerja masuk dan keluar dari sutau persahaan meningkat tajam, karena jika ikatan kerja dengan perusahaan sudah selesai, biasanya satu hingga lima tahun, maka selesai pula hubungan mereka dengan PT Jamsostek.

Meskipun, secara teori pekerja bisa melanjutkan kepesertaan Jamsostek jika mereka bekerja lagi di perusahaan lain, tetapi pada praktiknya kemungkinannya sangat kecil. Dampaknya pekerja yang terdaftar lalu keluar dari program Jamsostek juga meningkat.

Dengan kondisi demikian manajemen PT Jamsostek menilai sudah saatnya BUMN itu memiiki kualitas layanan yang sama di semua kantor cabang.

Untuk produk, PT Jamsostek memiliki empat program, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kesehatan. Keempatnya "ditawarkan" ke seluruh Indonesia. Artinya, keseragaman produk sudah dilakukan, tetapi keseragaman layanan masih diperlukan.

Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan tahun 2010 akan dijadikan tahun peningkatan kualitas pelayanan bagi peserta. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang seimbang dan merata di seluruh Indonesia, sesuai dengan beban tugas dan kondisi daerah.

Direktur Umum dan SDM PT Jamsostek Joko Sungkono mengatakan saat ini terdapat 3.127 orang yang bekerja di BUMN itu dan hanya 350 di antaranya berada di kantor pusat.

Kondisi itu menunjukkan sebagian besar karyawan berada di daerah dan menjadi ujung tombak bagi pemberian pelayanan kepada pekerja dan perusahaan.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, Joko mengatakan pihaknya mengadakan 19 jenis pendidikan dan pelatihan, dari diklat pengenalan tugas hingga pelatihan menajerial dan kepemimpinan.

Lalu, apakah sudah ada standar pelayanan bagi pekerja yang membutuhkan layanan administrasi dan pencairan klaim di kantor-kantor cabang?

Joko mengatakan standardnya sudah ada tetapi sebagai organisasi yang terus bergerak dan selalu melakukan penyegaran maka dipandang perlu untuk selalu melakukan pembenahan.

Terakhir perusahaan persero itu merekrut 111 tenaga muda yang baru lulus sarjana yang dilatih menjadi ujung tombak pelayanan di daerah. Sebagian besar diantara mereka putra daerah yang dinilai mengenal kondisi daerahnya.

Mereka tenaga muda dan dibekali budaya kerja baru, yakni mengutamakan kepentingan peserta agar standar pelayanan yang ditetapkan bisa diaplikasikan di lapangan.

BUMN itu juga sudah menerapkan kebijakan "zero growth" artinya di balik perekrutan 111 tenaga baru itu sudah dan akan ada 111 pegawai yang sudah dan akan pensiun tahun ini.

Di lapangan, bagaimana sesungguhnya tingkat kepuasan pelanggan atas layanan BUMN itu? Ketum KSPSI Mathias Tambing mengatakan masih terdapat kekurangan di sana sini.

Indikasinya, dari 3,6 juta anggota KSPSI hanya 30 persen yang menjadi peserta Jamsostek. Itu menunjukkan tenaga lapangan perusahaan negara itu belum melakukan jemput bola sehingga banyak pekerja yang belum terpenuhi hak normatifnya.

Dia juga menyatakan kualitas layanan belum seragam, masih ada pekerja yang harus menunggu lama untuk mendapatkan haknya. Namun, di sisi lain diakuinya pengetahuan pekerja tentang program

Jamsostek, serta hak dan kewajibannya pada jaminan sosial (social security) masih kurang.

Untuk itu dia melihat perlu kerjasama yang erat antara PT Jamsostek, serikat pekerja dan penegak hukum (pemerintah) agar program jaminan sosial membudaya, dan dibutuhkan karena manfaatnya.

Dia juga menilai kerjasama harus lakukan tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga ditingkat kantor wilayah (pengurus daerah), cabang hingga ketingkat pengurus serikat pekerja perusahaan.

Jika kerjasama hanya dilakukan di tingkat pusat dengan penandatanganan kerja sama operasi (KSO) tetapi tidak dilanjuti dengan komunikasi di level bawah.

Upaya pemuasan layanan bagi peserta, pada dasarnya berkaitan erat dengan kualitas pekerja itu sendiri. Jika costumer sevice tidak trampil atau mengalami gangguan di lingkungannya maka kualitas layanan akan menurun.

Prinsip Layanan
Guru Besar Universitas Pancasila Prof. Dr. Bambang Purwoko membagi empat klasifikasi yang harus dimiliki oleh seorang pelayan, pertama, niat dan kemampuan untuk melayani.

Pemahaman tentang itu diamsalkan dengan tugas melayani dengan merasa dibutuhkan.

Dia mencontohkan, jika seseorang dilatih untuk melayani, maka dia tidak akan mempermasalahkan apakah menjadi peserta Jamsostek itu wajib karena UU atau karena memang dibutuhkan.

Pemahaman persepsi itu diperlukan agar petugas pelayanan bekerja karena peserta membutuhkan pelayanan yang efisien tidak bertele-tele.

Jika, persepsi yang ditanamkan bahwa menjadi peserta karena kewajiban perusahaan maka akan ada sikap arogansi, karena peserta yang membutuhkan maka mereka harus mengikuti aturan yang dibuat oleh Jamsostek, dan tak boleh menggugat waktu yang lama atau administrasi yang bertele-tele.

Kedua, kemampuan berkomunikasi untuk menjelaskan program, ketiga ketrampilan dan penguasaan materi program, dan keempat lingkungan kerja yang kondusif.

Point keempat itu terkait dengan kondisi internal di lingkungan kerja dan eksternal (lingkungan keluarga). Jika, tidak masalah di kedua lingkungan tersebut maka petugas layanan akan bekerja lebih giat.

Untuk mendapatkan kualitas pekerja seperti itu, menurut ekonom tersebut, bisa dilakukan dengan melatih petugas layanan untuk memiliki ketrampilan dan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.

Apa pun kondisi yang dihadapi petugas layanan, maka dia harus selalu ramah, sabar dan selalu memberi solusi atas masalah yang dihadapi pekerja peserta Jamsostek.

Upaya dan fokus menjadikan pelayanan dan profesionalisme pekerja sebagai fokus kerja BUMN tersebut diapresiasi oleh Ketua Serikat Pekerja Jamsostek Abdul Latief Algaff.

Menurut dia, jika masih ada pendapat miring tentang perusahaan persero itu, maka itu mungkin terjadi karena mereka masih memahami PT Jamsostek seperti tahun 2000 atau sebelumnya.

Jamsostek yang ada saat ini sudah banyak berubah. Perusahaan yang mengelola dana sekitar Rp90 trilun melakukan sejumlah perubahan signifikan dengan menandatangani Pakta Integritas, menerapkan standar layanan yang mengacu pada tata kelola yang baik (GCG) dan menjadi index performance perorangan sebagai kunci penilaian.

Hasilnya, tahun 2009 PT Jamsostek menerima empat penghargaan, yakni dari International Social Security Association tentang kendali mutu, penghargaan dari KPK tentang integritas perusahaan, penghargaan di bidang GCG dan penghargaan di bidang pengelolaan financial.

Untuk penghargaan dari KPK, BUMN berada di urutan nomer lima dari 96 perusahaan yang dikaji, dan ini agaknya menjadi satu yang membanggakan dan selalu disebut dalam forum formal maupun informal perusahaan.

Karena itu pula, Latief mempertanyakan, apakah masih perlu wacana pengubahan status hukum badan dari persero (PT) menjadi wali amanah.

Menurut dia, jika dengan status persero, perusahaan menjadi lebih baik dan kinerjanya terukur maka perubahan status tidak diperlukan lagi. Terlebih lagi prinsip waliamanah yang mengembalikan semua manfaat kepada pekerja saat ini sudah terlaksana, yakni deviden untuk pemerintah sudah nol, semuanya sudah kembali ke pekerja.

Jika pemerintah juga tidak mengenakan pajak pada BUMN itu, maka prinsip wali amanah sudah terlaksana semua, kerena di seluruh dunia badan pengelola jaminan sosial pekerja maupun warga tidak wajib menyerahkan deviden dan tidak dipungut pajak. Semua manfaat dikembalikan kepada pekerja.

Dengan kondisi masih dipungut pajak, PT Jamsostek memberikan manfaat lebih besar kepada pesertanya, terutama pada tabungan (jaminan) hari tua yang manfaatnya lebih besar dari pada bunga deposito.

Jika PT Jamsostek dibebaskan dari pajak maka manfaat yang dirasakan pekerja akan berlipat ganda, karena deviden dan pajak akan diarahkan pada pekerja.

Bilakah hal itu terjadi? Semua mata pekerja mengarah pada kebijakan pemerintah.

*Penulis wartawan LKBN ANTARA

[Via]

Selasa, September 28, 2010

Jamsostek: Tidak Ada Dana "Tak Bertuan"

Jakarta (ANTARA News) - Direksi PT Jamsostek menyatakan tidak ada dana yang "tidak bertuan" di perusahaan yang mereka kelola karena semua dana yang terhimpun jelas pemilik dan dari perusahaan mana.

Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga di Jakarta, Rabu, mengatakan, pihaknya menghadapi masalah lama yang harus dituntaskan saat ini, yakni terhimpunnya dana dalam jumlah besar dari peserta jaminan sosial tenaga kerja, tetapi tidak diklaim mereka yang berhak.

"Kondisi itu terjadi karena beragam alasan," kata Hotbonar. Diantaranya, pekerja tidak tahu didaftar perusahaan dalam program jamsostek, berpindah-pindah pekerjaan, memiliki lebih dari satu kartu peserta, meninggal tanpa memberi tahu informasi kepesertaannya kepada keluarga.

Dari data yang dihimpun BUMN itu, terdapat 3,3 juta pekerja yang memiliki kartu peserta ganda atau lebih. Kondisi itu terjadi karena pekerja tersebut berpindah-pindah sehingga ditempat kerja baru didaftar lagi sebagai peserta Jamsostek, sementara, pekerja bisa melanjutkan kepesertaannya yang lama jika berpindah kerja di tempat baru.

Saat ini terdapat 21 juta peserta Jamsostek yang menjadi peserta pasif, artinya tidak membayar iuran secara rutin dalam jangka waktu tertentu. Dari 21 juta, sekitar empat juta peserta di antaranya sedang menanti pencairan jaminan hari tua agar genap lima tahun sesuai aturan yang ada.

Sementara sisanya tidak jelas keberadaannya, karena data yang dimiliki PT Jamsostek hanyalah berupa nama, tempat tanggal lahir, mulai kerja dan jabatannya.

Untuk itu, BUMN itu melakukan pendataan ulang yang memuat jadi diri peserta lebih lengkap, seperti alamat rumah dan nomer yang bisa dihubungi.

Untuk menuntaskan data 17 juta pekerja yang belum jelas keberadaannya, maka kepada pekerja yang berusia 55 tahun, sudah tidak bekerja lagi, pernah menjadi peserta Jamsostek tetapi belum pernah mencairkan dana jaminan hari tua (JHT) diminta agar menghubungi kantor PT Jamsostek terdekat.

Sebelumnya Hotbonar mengatakan, pihaknya akan menelusuri pemilik total dana sekitar Rp9 triliun yang kini masih tersimpan di rekening BUMN tersebut. Dana itu milik sekitar 17 juta pekerja yang selama ini dikategorikan sebagai peserta tidak aktif.

Dari data yang ada, mereka yang tidak aktif itu ada yang terdaftar sejak 33 tahun lalu.

Sementara itu, Direktur SDM PT Jamsostek Joko Sungkono mengatakan, terhimpunnya dana sebesar itu karena PT Jamsostek mengubah sistem pendataan yang manual ke sistem komputerisasi.

Perubahan sistem itu menghasilkan temuan bahwa sekitar 21 juta peserta tidak aktif membayar iurannya. Dari 21 juta, sekitar empat juta peserta sedang menanti pencairan jaminan hari tua agar genap lima tahun sesuai aturan yang ada.

Dana yang akan diklaim penanti JHT itu sekitar Rp4,9 triliun, sehingga terdapat sekitar Rp9 triliun yang belum jelas dimana pemiliknya. "Kami ingin mengembalikan dana itu kepada yang berhak. Itu membutuhkan kerja keras agar kami tetap amanah mengelola dana pekerja," kata Joko.
(E007/B010)

[Via]

Rabu, April 21, 2010

Pelayanan 'Senyum' di Bagian Pemasaran Jamsostek Salemba

Jakarta - Saya sangat kecewa dengan pelayanan yang diberikan Bagian Pemasaran Jamsostek Salemba. Ini berawal ketika saya mendatangi Kantor Jamsostek Salemba untuk mengklaim dana Jamsostek saya.

Awalnya saya diterima sangat baik dan memuaskan oleh Customer Service. Namun, karena kartu Jamsotek saya belum non aktif maka saya tidak bisa mengklaim dana Jamsostek. Akhirnya saya dirujuk untuk menemui Bagian Pemasaran untuk mengnonaktifkan kartu Jamsostek saya yaitu sebut saja Ibu F di lantai 2 gedung Jamsostek.

Namun, diluar dugaan perilaku dan sikap Ibu F sungguh tidak patut dicontoh. Bayangkan saya sudah menyapa selamat pagi tidak dijawab. Jangankan memberi 'senyum' dipersilahkan duduk pun tidak. Saya merasa seperti 'kacung'.

Bahkan, pada saat bersamaan ada peserta Jamsostek menanyakan salah satu staff yang lain kepada Ibu F. Dengan wajah yang masam dia hanya menjawab, "tanya sebelah sana saya lagi sibuk," tanpa memandang wajah sedikit pun.

Sayang sekali Jamsostek yang merupakan pelayanan masyarakat harus dicoreng oleh staff yang tidak memiliki perilaku yang baik. Apakah Jamsostek sebesar itu tidak pernah memberikan pelatihan service excellen kepada semua staffnya. Saya rasa tidak mungkin.

Seharusnya orang seperti Ibu F tidak ditempatkan di bagian pemasaran karena dia tidak bisa berinteraksi dan menghargai orang lain. Seharusnya dia ditempatkan di bagian lain yang lebih cocok.

Saya berharap ini jadi perhatian bagi PT Jamsostek Indonesia untuk lebih memperhatikan staffnya dalam melayani masyarakat. Semoga ke depannya Jamsostek bisa lebih baik lagi dalam melayani masyarakat. Terima kasih atas perhatiannya.

Sari Rejeki
Tg Priok Jakarta Utara
adis_thala@yahoo.com
0858-80777607



(msh/msh)

[Via]