Jumat, Oktober 19, 2012
JAMSOSTEK JOURNALIST AWARD 2012
Jumat, November 12, 2010
Bukopin lebih memilih Jamsostek
"Kalau akuisisi kan CAR tetap," kata Direktur Utama Bukopin Glen Glenadi dalam Keterangan Pers Investor Summit 2010 di Jakarta, Kamis, 11 November 2010.
Glen mengungkapkan, saat ini posisi CAR Bukopin berkisar pada angka 12 persen. Untuk meningkatkan posisi CAR tersebut, perusahaan akan melakukan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru (rights issue).
"Untuk menunjang ekspansi bisnis kami sebesar 20-30 persen, kami akan melakukan rights issue," katanya.
Glen mensyaratkan investor yang bisa menjadi mitra hanyalah perusahaan yang sesuai dengan keinginan pemegang saham dan sejalan dengan strategi Bukopin. Bahkan, Glen mensyaratkan lebih suka jika Bukopin bermitra dengan Jamsostek, dibanding BRI. Sayangnya, Menteri Negara BUMN tak merestui Jamsostek menggandeng Bukopin.
"Dari sisi keinginan, BRI berbeda, Selain itu BRI belum melakukan pembicaraan apa-apa, akan lebih sejalan dengan Jamsostek daripada BRI." ujarnya.
Rabu, November 03, 2010
DPR & Pemerintah akan bicarakan evaluasi keseluruhan SJSN maupun BPJS
"Kita tidak membicarakan tentang penolakan, kita bicarakan tentang evaluasi keseluruhan SJSN maupun BPJS," jelas Menteri Keuangan Agus Martowardoyo usai menghadiri Mandiri Economic Forum di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (2/11/2010).
Sebelumnya, pemerintah dikabarkan menolak usulan DPR untuk meleburkan lembaga-lembaga penyelenggara jaminan sosial menjadi satu lembaga. Tapi, pernyataan Menkeu tersebut membantah kabar burung tersebut.
Dia juga menambahkan, saat ini pemerintah masih terus berkordinasi dan mengevaluasi mengenai Daftar Inventarisasi masalah mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Badan hukum penyelenggara jaminan sosial (BPJS).
KPPU panggil Menakertrans soal kebijakan Asuransi TKI
"Kita akan panggil mereka dan matangkan kasus ini secara terbuka. Kita akan melakukan focus group discussion (FGD) yang dilaksanakan pada 3 November 2010," ujar Komisioner KPPU Erwin Syahril dalam forum jurnalis di Gedung KPPU, Jakarta, Rabu (27/10/2010).
Menurut Erwin, peraturan menakertrans (Permenarkertrans) Nomor 07/MEN/V/2010 yang menetapkan satu konsorsium saja dengan Asuransi Central Asia (ACA) sangat aneh.
Seperti diketahui peraturan tersebut memang menunjuk ACA sebagai ketua konsorsium dan anggotanya yakni PT Asuransi Umum Mega, PT Asuransi Harta Aman Pratama, PT Asuransi Tugu Kresna Pratama, PT Asuransi LIG, PT Asuransi Raya, PT Asuransi Ramayana, PT Asuransi Purna Artanugraha, PT Asuransi Tafakul Keluarga, dan PT Asuransi Relife.
Dalam pembahasan itu KPPU berencana mempertanyakan mengenai landasan dikeluarkannya kebijakan tersebut. Termasuk masalah tidak dilibatkannya Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek).
Selasa, November 02, 2010
JHT mendominasi klaim PT Jamsostek (Persero) Wilayah VI
Data yang diperoleh dari Kanwil VI PT Jamsostek di Surabaya, Selasa mencatat, dari total Rp655,59 miliar santunan yang dibayarkan hingga September 2010, sekitar Rp486,35 miliar lebih untuk program JHT.
Sisanya untuk program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) sebesar Rp93,29 miliar, Jaminan Kematian Rp31,72 miliar dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Rp44,21 miliar.
Khusus untuk program JHT, selama periode Januari-September 2010 terdapat sebanyak 86.115 kasus atau rata-rata per tenaga kerja peserta Jamsostek menerima santunan sekitar Rp5,6 juta lebih.
Kepala Kanwil VI PT Jamsostek, Junaedi, mengungkapkan akumulasi dana JHT yang terkumpul dari 3.084.211 tenaga kerja yang menjadi peserta hingga September 2010, mencapai lebih dari Rp7,63 triliun.
"Kalau di rata-rata, tabungan per peserta Jamsostek di Kanwil VI sekitar Rp2,47 juta. Dana JHT bersumber dari iuran peserta yang besarnya 5,7 persen dari upah," paparnya.
Jamsostek siap menyerap rights issue Bank Mandiri
"Kita mau serap sampai 20% dari total rights issue. Dananya selalu siap kalau untuk investasi," kata Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (2/11/2010).
Bank pelat merah itu berniat melepas saham baru sekitar 10,18% dengan target dana hingga Rp 15 triliun. Aksi korporasi ini akan digelar paling cepat di awal tahun 2011.
Saat ini total saham Bank Mandiri keseluruhan sebanyak 21 miliar lembar saham. Jika bank pelat merah itu akan menerbitkan saham baru sebanyak 10,18 persen maka jumlahnya sekitra 2,1 miliar lembar saham. Dengan demikian, Jamsostek siap menyerap hingga sebanyak 420 miliar lembar saham dalam aksi korporasi Bank Mandiri nanti.
JAMSOSTEK hanya mendapatkan jatah saham Krakatau Steel senilai Rp100 miliar
Menurut Hotbonar, untuk dapat optimal menyerap saham KS, pihaknya sebenarnya menyiapkan dana sebesar Rp500 miliar. Selanjutnya, pihaknya lalu telah mengajukan penawaran untuk membeli saham IPO KS senilai Rp250 miliar.
"Tapi setelah penawaran, penjamin emisi (underwriter) hanya memberi jatah ke Jamsostek sebanyak Rp 100 miliar saja," katanya.
Dengan jumlah ini, Jamsostek akan memiliki sekitar 1,1 juta saham PT KS dengan perhitungan harga IPO sebesar Rp850 per lembar. Jumlah itu hanya sebesar 0,00003% dari total saham KS yang dilepas sebesar 3,15 miliar lembar saham.
Namun demikian, Hotbonar mengaku dapat memaklumi hal itu. Sebab, menurutnya, penjatahan saham IPO KS memang akan minim jika terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) yang cukup besar.
"Oversubscribed-nya besar. Wajar saja jika dapatnya sedikit. Kan harus dibagi dengan investor yang lain," ujarnya.
Senin, November 01, 2010
SJSN Jalan di Tempat
DBSU Tuntut Hukum Berat Manager PLN Karena Tidak Ikut Jamsostek
Dalam pernyataan sikapnya, pengunjuk rasa mengungkapkan, perusahaan negara PT PLN pembangkit Sumbagut sektor Belawan tidak melaksanakan ketentuan hukum perburuhan seperti upah di bawah ketentuan yang berlaku, mengabaikan hak azasi buruh atas Jamsostek.
Minggu, Oktober 24, 2010
Jumlah peserta aktif program jamsostek sampai dengan September 2010 mencapai 9,12 juta orang
Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga, ketika dihubungi mengatakan, Target penambahan kepesertaan tenaga kerja tahun 2010 sebanyak 2.794.665 orang, realisasi sampai dengan September 2010 sebanyak 2.321.430 orang atau sudah mencapai 83,07 persen.
Target penambahan kepesertaan perusahaan di tahun 2010 adalah 23.166 perusahaan, realisasi sampai dengan September 2010 sebanyak 18.102 perusahaan atau 78,14 persen dari target setahun.
[Via]
Sabtu, Oktober 23, 2010
Jamsostek BUMN yang paling siap menjadi BPJS
"Dari sisi pelayanan, kami bekerja dalam sistem pasar yang terbuka sehingga paling siap menjalankan BPJS. Kami melayani semua orang, mulai pekerja formal sampai informal dan tidak tertutup untuk kalangan tertentu saja," jelas Hotbonar.
Kamis, Oktober 21, 2010
Pansus pesimistis UU BPJS bisa selesai tahun ini
"Jika pemerintah berbeda pendapat atau tidak setuju dengan usulan DPR, kan bisa mengajukan usulan DIM versi pemerintah, biar kita bahas bersama, tidak seperti ini, ini kan sama saja melecehkan DPR," kata Zuber di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/10).
Dengan sikap seperti itu pula, kata Zuber pemerintah juga tidak siap membahas RUU BPJS. Seharusnya kata dia, perbedaan pendapat terkait dengan DIM nomor 11 yang berisi masalah bentuk BPJS multi atau tunggal seharusnya ditanggapi dan dijelaskan Pemerintah sehingga pembahasan RUU BPJS tidak mengganjal. Tidak harus menunggu DIM 11 karena masih banyak pasal-pasal lain yang perlu dibahas. "Kami hanya dikirimi DIM kosong," tukasnya.
[Via]
DPRD Sumut dorong perusahaan masuk JAMSOSTEK
“Permasalahan yang kita hadapi, tidak semua perusahaan yang memberi perlindungan Jamsostek bagi pekerjanya. Ini harus terus didorong,” ujar Brilian lagi.
Walau demikian, menurut Brilian, beberapa pengaduan pekerja yang masuk ke DPRD Sumut mengenai ketiadaan Jamsostek sudah berhasil ditangani. Bahkan, satuan pengamanan (satpam) DPRD Sumut yang sudah bekerja hingga belasan tahun, sebelumnya tidak mendapat Jamsostek. Namun, pada periode ini DPRD Sumut mendorong agar 26 orang satpam DPRD Sumut mendapat Jamsostek.
Rabu, Oktober 20, 2010
Jamsostek Investment beroperasi tahun depan
Hingga saat ini, pendirian JIC ini masih menunggu hasil kajian dari konsultan yang ditargetkan selesai pada tiga bulan ke depan.
"Mudahan-mudahan sudah bisa operasi awal tahun depan, ya kuartal I tahun depan," kata dirut PT Jamsostek, Hotbonar Sinaga di sela-sela 25th East Asian Insurance Congress (EAIC) di Nusa Dua, Bali, hari ini.
Dia menambahkan sebenarnya target operasional JIC sudah molor dari target awal yakni semester I/ 2010. “Kami tempuh prosedur pendirian yang seharusnya dilakukan."
Klaim yang Dibayar Jamsostek Kanwil IV Meningkat
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Jamsostek Jabar-Banten E Ilyas Lubis di Bandung, Selasa (19/10/2010), menjelaskan, hingga akhir tahun 2010, nilai klaim diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun atau naik dari tahun 2009 sekitar Rp 1,4 triliun. Jumlah peserta Jamsostek Jabar-Banten saat ini sekitar 7,1 juta pekerja.
Angka itu terdiri dari 2,4 juta peserta aktif dan sisanya non-aktif. Ilyas juga yakin, jumlah peserta Jamsostek di wilayahnya akan meningkat menjadi 7,3 juta orang pada akhir tahun 2010. Pengguna Jamsostek misalnya industri tekstil, kulit, dan otomotif.
"Kami optimistis peserta bertambah karena banyak perusahaan berkembang. Perusahaan pun mampu membuat karyawannya menjadi peserta Jamsostek," kata Ilyas.
Sabtu, Oktober 16, 2010
Jamsostek Kucurkan Rp4,2 Miliar untuk Mitra
"Kami selama ini sudah memberikan bantuan kepada 275 mitra binaan sejak 1998 sampai sekarang, dan untuk tahun 2010 sudah ada 10 mitra binaan yang menerima pinjaman dari Jamsostek dengan total Rp132 juta," kata Kepala cabang Jamsostek Palangka Raya Farid Wajedi, di Palangka Raya, Sabtu.
Menurutnya, mitra binaan Jamsostek Palangka Raya saat ini paling banyak adalah pengusaha yang bergerak pada bidang perikanan dan sembako, selain itu ada juga yang bergerak pada bidang industri kecil namun jumlahnya sangat sedikit.
Ia mengatakan, alasan kenapa paling banyak pengusaha ikan yang menjadi mitra binaan, karena pihaknya menginginkan sektor perikanan menjadi produk unggulan yang pengembangannya dibantu oleh Jamsostek Palangka Raya.
"Kami memiliki target bahwa kedepan Jamsostek akan memiliki desa binaan yang masyarakatnya bergerak sebagai pengusaha ikan, oleh karena itu kami memilih para pengembang perikanan sebagai mitra binaan yang paling dominan," ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga mengakui bahwa dari sekian banyak mitra binaan 30 persen diantaranya pernah macet mengembalikan pinjaman, namun tidak terhenti total hanya terlambat melakukan pembayaran karena usahanya sedang ada masalah.
Pihaknya menjelaskan, untuk satu mitra binaan bantuan yang diberikan berkisar antara Rp5 - Rp20 juta, sesuai dengan usahanya yang dinilai layak untuk dikembangkan serta terjamin tidak macet melakukan pembayaran pengembalian pinjaman.
Persyaratan untuk menjadi mitra binaan Jamsostek yakni, usahanya sudah berjalan selama dua tahun, mengajukan proposal yang disetujui oleh suami istri apabila sudah bekeluarga, dan akan dilakukan survei oleh perusahaan sebagai dasar pemberikan jumlah pinjaman pengembangan usaha.
Sementara itu, pihaknya juga selalu memberikan pelatihan kepada para mitra binaannya untuk mengembangkan dan memanagemen usahanya agar menjadi lebih maju dan strategi untuk memasarkan hasil usahanya dengan nara sumber yang berkompeten.
"Kami baru-baru ini juga memberikan pelatihan untuk 50 orang mitra binaan Jamsostek tentang cara-cara menjadi sukses dalam mengembangkan usaha yang sudah dijalankan selama ini," tambahnya.
Oleh karena itu, Jamsostek mengharapkan para mitra binaan usahanya akan terus berkembang dan meningkat, serta tidak macet dalam melakukan pembayaran pengembalian pinjaman.
(ANT/S026)
[Via]
Hasil Investasi Jamsostek Rp8,6Triliun
Dari hasil investasi sebesar Rp8,6 triliun, kontribusi terbesar masih dari portofolio obligasi yang mencapai Rp3,3 triliun, ujar Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Masassya kepada Seputar Indonesia, di Jakarta kemarin. Elvyn mengatakan,setelah obligasi, penyumbang terbesar kedua, investasi pada portofolio saham yang mencapai Rp2,8 triliun. Sedangkan deposito dan reksa dana kontribusinya masing masing sebesar Rp2 triliun dan Rp500 miliar.Sementara untuk hasil investasi properti dan penyertaan modal masih sangat kecil sebesar Rp70 miliar.
Menurut Elvyn besarnya hasil investasi Jamsostek pada kuartal III/2010 tidak terlepas dari total dana investasi yang digelontorkan perseroan sebesar Rp94,7 triliun. Angka tersebut melebihi target tahun ini sebesar Rp88,5 triliun.Padahal posisi Desember 2009 hanya sekitar Rp81 triliun, paparnya. Elvyn mengungkapkan,dari total dana investasi tersebut,perseroan mengalokasi dana ke deposito sebesar Rp32,5 triliun, obligasi sebesar Rp39,7 triliun dan pasar saham mencapai Rp17,5 triliun. Kemudian untuk reksa dana sebesar Rp4 triliun, sedangkan untuk properti dan penyertaan modal hanya Rp500 miliar.
Sebelumnya, Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, total aset Jamsostek akhir tahun bisa mencapai Rp100 triliun (rakhmat baihaqi)
[Via]
Perjanjian pendirian Jamsostek Investment diteken akhir Oktober
Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan penandatanganan perjanjian kerja sama JIC itu dijadwalkan pada akhir bulan ini di Kuala Lumpur.
"Sudah [ada kesepakatan]. Kami akan teken perjanjiannya di Kuala Lumpur akhir bulan ini," ujarnya hari ini.
JIC merupakan perusahaan patungan antara Jamsostek dengan ICD. Perusahaan ini nantinya akan berfungsi sebagai perusahaan investasi.
Berdasarkan catatan Bisnis, terkait dengan rencana pembentukan JIC, Jamsostek berencana mengakuisisi PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo). ReIndo juga akan dilepas ke pasar melalui penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) setelah Jamsostek masuk selama 3-4 tahun pada perusahaan asuransi itu.
Untuk mengambil alih perusahaan asuransi tersebut, Jamsostek menjajaki untuk menggandeng Dana Pensiun Telkom dan Dana Pensiun PLN. (yus)
[Via]
Hindari Monopoli, Jamsostek Pilih Sinergi
SURABAYA – PT Jamsostek (Persero) memilih mensinergikan unit usahanya dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketimbang upaya merger dengan empat penyelenggara jaminan sosial lainnya seperti Askes, Taspen dan Asabri seperti usulan Panja DPR RI terkait RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
“Kalau merger justru bisa menciptakan monopoli, ini mengingat aset keempatnya kalau dikumpulkan bisa tembus Rp 200 triliun. Kita lebih sepakat sinergi saja,” kata Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Hotbonar Sinaga, Senin (11/10).
Ia mengatakan sinergi yang dimaksud bisa berupa penyertaan saham di BUMN seperti BNI, Bank Mandiri, Krakatau Steel hingga Garuda Indonesia. Ditambahkannya, upaya merger melanggar UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 40/2004 Pasal 1, dimana penyelenggara SJSN tidak boleh tunggal. Pelanggaran lain merujuk UU tersebut, jaminan sosial sifatnya harus di-fundingkan atau didanakan.
“Artinya, ada penyisihan dana dari pemberi kerja dan peserta secara periodik dan sifatnya juga investasi dimana setiap tahun akan dihitung oleh akuntan. Sementara Taspen dan Asabri lebih ke jaminan pensiun saja yang sifatnya pay as you go. Jadi tidak bisa jika dimerger,” lanjutnya.
Untuk mengakomodir kepesertaan warga terhadap sistem jaminan sosial nasional, idealnya pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP). “PP ini nantinya harus mampu dan memberikan kejelasan posisi UU 40/2004 dan RUU Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS),” lanjutnya.
Hotbonar juga mencontohkan di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Pilipina, dan Thailand tak pernah ada BPJS tunggal. “Kalau di Singapura memang cuma satu karena sejak lahir cuma ada satu BPJS. Indonesia biarlah tetap empat, kalau merger akan menciptakan dampak baru. Benturan kultur korporasi dan masalah kepegawaian. Dengan sistem baru nanti semua peserta akan terhitung nol, peserta Jamsostek juga harus di PHK dulu agar mendapat pesangon. Ini masalah bisa jadi masalah,” lanjutnya.
Keberatan Jamsostek ini juga didasari kepemilikkan asetnya yang paling besar di antara ketiga penyelenggara jaminan sosial lainnya. Jamsostek mencatat aset secara nasional kini Rp 94,5 triliun. Sekitar 50 persen diinvestasikan dalam bentuk instrumen obligasi (80 persen ORI), 30 persen deposito, 20 persen penyertaan langsung dan sisanya lain-lain termasuk properti. Pada 2011 diyakini aset mampu tumbuh Rp 115 triliun. den
[Via]
Kelompok Usaha Ternak Langkat Terima Bantuan Bergulir dari Jamsostek
PT Jamsostek (Persero) Cabang Binjai-Langkat memberikan bantuan pinjaman dana bergulir Program Kemitraan Bina Lingkungan kepada kelompok peternak sapi/kambing yang terdapat di Kabupaten Langkat, usai pelaksanaan apel pagi dihalaman kantor Bupati Langkat, Stabat, Senin (11/10).
Bantuan pinjaman dana bergulir oleh pihak Jamsostek diberikan kepada sepuluh orang dengan nilai jumlah bantuan sebesar Rp 80 juta diserahkan melalui Bupati Langkat Ngogesa Sitepu dan Kakacab PT Jamsostek (Persero) Binjai-Langkat H Mustafa Zainal, SH.
Disela-sela penyerahan bantuan, Mustafa Zainal Kepala PT Jamsostek Cabang Binjai-Langkat menegaskan, program kemitraan dan bina lingkungan yang disalurkan dengan tujuan sebagai salah satu upaya PT Jamsostek (persero) sebagai BUMN yang bergerak pada lembaga jaminan sosial untuk terus melakukan peningkatan peranya dalam mengentaskan penganguran dan kemiskinan melalui dana PKBL.
Selain itu, untuk membentuk citra positif Jamsostek dimata masyarakat sereta dalam rangka meningkatkan mamfaat kepesertaan untuk pekerja yang menjadi peserta, pada kesempatan itu juga Mustafa mewakili PT Jamsostek Cabang Binjai mengucapkan terima kasihnya kepada Bupati Langkat dan jajaranya yang telah memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan program jamsostek.
Atas dukungan yang diberikan tersebut dari tahun ketahun peserta jamsostek diwilayah Kabupaten Langkat terus mengalami peningkatan, dengan harapan seluruh tenaga kerja telah mendapat perlindungan manfaat program Jamsostek. Sehingga tenaga kerja beserta keluarga mendapat ketenagan dan sejahtera dalam kehidupanya, urai Mustafa.
Selain itu, Jamsostek juga memberikan santunan jaminan kematian kepada ahli waris tenaga kerja honorer penyapu jalan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemkab Langkat. Masing-masing mereka menerima Rp 16,8 juta kepada Ponirah istri almarhum Burhanuddin dan Nartari sitepu ayah kandung Syamsul Bahri. (hpg)
[Via]